Sebenarnya mungkin, Semesta memiliki ruang dan waktu tak berujung, masa yang tak habis jika di ukur. Seluruh manusia regudugan berlomba mencari,meneliti, bahkan sampai mengkaji seluruh isi alam yang pada hakikatnya mungkin mereka hanyalah ingin mengetahui batasan batasan pengetahuannya. Yang manusia alami saat ini adalah menganggap apa yang mereka tahu itu sebagai pengetahuan hakiki, pedahal semua itu hanya fatamorgana saja, semua semu, semua tak ada yang jelas, tak ada yang nyata, tak ada yang memang benar benar bisa diyakini sebagai pengetahuan yang sesungguhnya.
Sebenarnya mungkin, hampir
seluruh umat manusia selalu meyakini apa yang mereka tahu sebagai pengetahuan
sejati, padahal semua manusia hanya mengumpulkan informasi tentang
ketidaktahuan yang mereka kumpulkan semakin banyak dan banyak hingga mereka
meyakini sebagai pengetahuan.
Sebenarnya mungkin,manusia itu selamanya
tak pernah mencapai puncak pengetahuan. Karena selama ini yang dicari adalah
kumpulan ketidaktahuan, manusia hanya bermodalkan kalimat “yakin” untuk
meyakini sesuatu sebagai pengetahuan.
Sebenarnya mungkin, pengetahuan
itu tak pernah ada, karena manusia hanya mengumpulkan informasi yang ia yakini
dan menjadikan apa yang mereka kumpulkan sebagai pengetahuan.
Sebenarnya mungkin, keyakinan pun
tak ada karena manusia sedang berada di titik kebingungan dan dalam era bodoh
sebodoh bodohnya sehingga daripada bingung dan bodoh mikirin kehidupan,maka
setiap apa yang manusia lihat dikumpulkan lagi informasinya dan lagi lagi semua
manusia tidak tahu apa yang mereka yakini sebagai keyakinan yang apa. Apakah keyakinan
hakiki tentang keyakinan ? apakah keyakinan yang secara sejarah pengalaman saja
yang mereka yakini? Apakah keyakinan yang sentak mereka yakini dalam dirinya
sendiri berdasarkan apa yang mereka mengalami? Apakah yang mana?
Sebenarnya mungkin bisa jadi semua
tulisan ini ngawur, karena aku menulis dalam keadaan sadar atau tidak akupun tak
tahu.
Tapi akan dilanjutkan nanti “Sebenarnya
mungkin II” yang membahas tentang ketidakjelasan manusia.
#Arizqi
1 Oktober 2020
Komentar
Posting Komentar