Begitu rumitnya kami menghadapimu, sampai-sampai mungkin seluruh umat manusia salah faham akan kehadiranmu. Semua membencimu karena kau ditakdirkan lahir sebagai penyakit oleh Tuhan dan sulit memang diterima manusia. Semua menginginkan engkau segera lenyap, padahal itu hak sang pencipta alam dalam menciptakan dinamika kehidupan. Oh dasar manusia itu kenapa lagi-lagi kurangajar, selalu saja tak terima dengan alur cerita yang Tuhan buat.
Aku sedang ber angan, jikalau saja Covid-19 ini tercipta menjadi sebuah keindahan, apapun itu, pasti seluruh umat manusia memujinya, sampai lupa memuji Tuhan.
Begini saja, mungkin bagaimana kalau kita terima saja. Covid-19 ini kita biarkan ia di bumi ini, satu tahun ini belum apa-apa. Anggap saja ia tamu yang memang harus kita jamu dan kita sambut dengan ramah. Meskipun ada duka di awal, ya anggap saja itu sebagai persiapan dan bekal kita dalam kedatangan tamu agung dari bagian ketentuan Tuhan ini.
Tak usah mencemoh tamu agung ini dengan kebencian. Bisa jadi selama kita kutuk Covid-19 sama saja dengan mengutuk Tuhan.
Ya ampun..
Sudahlah, banyak keindahan dari semua ini. Yang kita perlukan adalah memperbaiki perilaku kita, agar selalu lebih bersyukur dalam hal sekacau apapun. Yakinlah bahwa Tuhan tak akan tega bila melihat para Hambanya hidup terus dalam penderitaan.
Arizqi, 5 Februari 2021
Komentar
Posting Komentar